KOTAK TAWA

kumpulan humor dan beragam artikel kocak

CURUG BELANDA: Pesona Dalam Belukar Gelap

        Kami berhenti di depan sebuah rumah papan di pinggir jalan, segerombolan pria  tampak duduk berserak dihalaman rumah. Mereka mengenakan topi, kaos oblong dan membawa sebuah tas punggung. Dandanan yang umum untuk menjelajah hutan, kalian tak perlu tampil keren danmodis di sana. Pengecualian jika kamu masuk hutan pada musim kawin, kamu bisa mengenakan jas dan setelan terbaik sambil berharap bisa menggaet hati beberapa monyet. Tak berbeda dengan mereka, aku memakai sebuah sebo dan atasan hitam dengan celana biru gelap. Yup,  inilah armor yang akan melindungi ku dari kebrutalan nyamuk dan babi hutan betina yang genit.



" mano roby?" mo melemparkan pertanyaan, beruntung yang ia lempar adalah pertanyaan bukan sebuah pisau atau syuriken.
" jadi nyo belum datang ? " kali ini aku ikut melempar pertanyaan, tapi  diselanya telah ku sisipkan batu. Sehingga orang yang menerima pertanyaan tersebut akan mengalami peristiwa benjol benjol dan luka
hantaman batu tumpul.
"cak nyo idak datang !" wawan menjawab pertanyaan yang ku lontarkan , mampus. Sekarang kepala kamu akan segera benjol.
" tadi ambo pai ke rumah nyo, eh nyo malah pai ke lais. Taik nian lanang tu !" jawab bima. Perlu dipertegas bahwa bima disini bukan chota beam atau pun bima kesatria garuda. Bima adalah kakak kelas kami
yang terkenal anak punk.
" besok panggil bae tiak ota*1 !" ucap mo

          Begitu lah, kami berbicara dalam bahasa daerah bengkulu. Mungkin beberapa pembaca beranggapan bahwa kami adalah alien yang  berbicara dalam bahasa planet mars dan sedang  mendiskusikan cara menguasai Bumi.  Tak apa, kami terima segala tuduhan kalian.

09:45
 
         kami semua sudah berkumpul dan menghitung berapa kepala yang hadir. Sesuai rencana tempo hari, kami akan melakukan pendakian gunung guna menemukan air terjun bernama curug belanda. Awal  kukira curug adalah tikus, sehingga curug belanda dapat ku artikan seperti tikus dengan hidung mancung dan kulit putih yang suka menindas para tikus pribumi. Sayang dugaan ku meleset, ternyata curug adalah air terjun.
Jadi kalau kamu artikan, ini seperti air terjun dengan kulit putih dan hidung mancung yang suka menindas air mancur pribumi. Yup, kira kira begitulah yang terpikir oleh otak si penulis.

"Ayo berangkat"

        Kami pun bergegas mengunjungi hutan. Mungkin ada baiknya aku memperjelas formasi kami. Di ujung tombak ada seekor anjing bernama lo, lo..., reng, ah mungkin nama nya kelereng.
Oke setelah melakukan musyawarah secara sepihak, penulis setuju mengganti nama anjing tersebut menjadi Koreng. Disini Koreng berkontribusi  sebagai pemandu jalan dan pendeteksi marabahaya, selain itu jika ada serangan dari depan kami sudah ikhlas menerima kepergian koreng.

         Lalu dibelakangnya adalah Supri. Supri  adalah putra alam sejati, ia adalah majikan sekaligus suri tauladan bagi Koreng. Lahir di pedesaan dan dibesarkan oleh alam, supri dapat mengenali perubahan alam meski hanya dengan menganalisis arah mata angin. Bahkan gosip yang beredar, sebelum gempa 2007 supri sempat bertingkah aneh dan terlihat gelisah. Kumis lebatnya bergetar tak jelas, supri pun pergi meninggalkan teluk dan berenang menuju perairan yang lebih dalam.

         Selain supri ada beberapa anggota dalam ekspedisi ini yang harus aku sebutkan yaitu wawan, Hendri, Deni, Abi, Mo, Ivan, Bima dan penulis sendiri. Jadi anda dapat menghitung kami 9 orang dan 1 ekor, upaya penjelajahan hutan pun dimulai.

CURUG BELANDA: Pesona Dalam Belukar Gelap

  "hei, tunggu woy" teriak ku ketika terlepas dari barisan

          Perjalanan dimulai dengan melewati beragam ladang dan kebun warga setempat, sepanjang jalan kami melontarkan lelucon dan guyonan penyegar suasana. Mata ku tertuju pada gunung yang  akan kami daki, terlihat cerah dibawah naungan sinar mentari. Di kaki bukit nampak seekor kerbau yang tengah membajak sawah, dari raut wajahnya terlihat ia sangat lelah dan tua. Sungguh malang, padahal seharus nya ia bisa menikmati hari hari tua bersama anak bininya.
         Menjauh dari lumpur lumpur itu, aku mendapati perkebunan sawit terpampang luas. Tanah nya datar dan sangat cocok untuk arena balap karung antara ayam hutan dengan Beruk Badau*2.  Supri meletakkan tangannya dimulut nya, membentuk sebuah corong lalu meneriakkan sebuah suara ke angkasa. Seketika seorang pria  muncul dari semak semak, tubuh nya tambun dan hitam. Rambut nya ikat , dia memegang sebuah tombak dan jelas tengah berburu. Memburu babi merupakan sebuah hal yang lumrah disini meski kami tidak mengkonsumsi nya, Babi Babi tersebut dapat dijual pada para pengepul. Bahkan untuk supri, berburu adalah aktivitas yang tak luput dari keseharian.  Supri mendekati pria itu dan membicarakan beberapa hal . Anjriit, kini mereka benar benar menggunakan bahasa alien dari planet mars.

          Kami meninggalkan pria itu dan melanjutkan perjalanan. Menurut informasi supri , di perkebunan ini populasi babi sangat banyak tak pernah mengalami penurunan, mungkin  dikarenakan kurangnya pemahaman
para babi akan arti penting keluarga berencana. Ini juga merupakan bukti kegagalan pemerintah indonesia.

       Beberapa kilometer kemudian, kami mulai memasuki kawasan hutan. Sangat berbeda. Belukar mulai menutupi cahaya yang masuk diantara daun daunpohon besar, rotan dan tanaman berduri tumbuh meliar disepanjang jalan. Beberapa ladang yang ditinggal pemilik nya pun menjadi bagian dari hutan. Supri melarang kami untuk bicara sembarangan apalagi sampai berucap takabur. Koreng sedari tadi berlalu lalang disekitar
kami, memastikan keamanan jiwa dan raga kami.

" masih jauh pri ?" tanya ku.
"uuh, jauh nian!" jauh nian ucap supri yang membuat ku menyesal telah mengikuti ekspedisi. Di dalam hutan seekor burung tampak berkicau kicau tak jelas, mungkin ia sedang kesal dan mengata ngatai teman burungnya yang lain.
"Dasar burung anjing. Dasar burung kampret, sialan . Burung kambing" Kira kira begitu lah yang aku pikirkan jika aku menjadi dokter Dolittle. Lagi pula siapa yang tau cara para binatang mencarut?

        Ekspedisi berlanjut di jalan setapak, Koreng kini tengah sibuk menanyai seekor anjing  yang ditemui nya dalam perjalanan.Tampaknya ia menemukan informan yang terpercaya. Jalan setapak ini pun sudah
mencapai pengakhiran, dari pijakan kami tampaklah sebuah rumahpanggung berdiri tegak namun sudah porak poranda seperti pernah di cium puting beliung.

       Sebuah pipa berukuran besar  melintang panjang di
dekat nya. Pipa itu mengalirkan air dari sungai didekat gua menuju ke arah pondok. Dulu tempat ini adalah tempat penambangan emas, namun sudah di tinggalkan. Sisa sisa penambangan berupa dua buah gua tampak
tak pernah disentuh lagi. Kami bersembilan saudara setanah air mendekat kearah gua, aroma khas tai kelelawar mulai menyeruak menggetarkan bulu hidung. Gua itu setinggi 2 meter dengan lebar 1 sampai 1,5 meter. Di dalam begitu gelap tanpa penerangan, maklumlah bila di sini PLN belum memasang instalasi listrik.


"woy, masuklah" ajakku pada teman teman yang sibuk berfoto ria.
Bahkan Abi dan si Koreng masih sempat sempatnya mengambil foto prewedding.
 
       Kami menyalakan perekam, mengeluarkan sebuah senter yang kami bawa dan mulai berjalan menyusuri gua itu. Semakin kedalam suasana semakin hening dan gelap, dinding gua itu dipenuhi kelelawar yang entah puluhan atau entah ratusan. Sementara lantainya adalah ubin yang tercipta dari kotoran kelewar dan berair. Aroma kotoran itu membuat beberapa teman kami mabuk , di sinilah aku merasa sangat kecewa. Bilamana tidak, disaat kamu tengah menahan sesaknya paru paru, mereka malah menyempatkan diri mabuk mabukan.

"Woy, aku gak tahan"
 "Minggir minggir" Mereka semua berlari keluar gua meninggalkan aku dan henry yang saling tatap tatapan tak bermakna.

       Semua hanya memperdulikan diri sendiri, bahkan mungkin mereka tak akan perduli jika kami di gang bang oleh para kelelawar jantan disini. Kuamati kelelawar yang bergelayut di dinding gua, punggung mereka berwarna keemasan. Ku tatap wajah mereka satu persatu, barangkali aku bisa menjumpai robert patinson diantara mereka. Tapi sayang beribu kali di sayangkan harapanku pupus karena kenyataan, aku tak menemukan robert tapi malah menemukan Batman yang tengah berhibernasi.

      Aku dan Henry makin melangkah maju, genangan air bercampur limbah pencernaan kelelawar menghalangi jalan kami. Kucelupkan kaki ku perlahan, airnya hanya setinggi mata kaki  namun mengandung sejuta bakteri penyebab beragam penyakit kulit seperti kutil, kadas, kurap dan sifilis. Diseberang genangan, ratusan kelelawar berterbangan menyerbu. Beberapa kelelawar menghantam wajahku dan henry, sedangkan sisa nya menghantam kelelawar yang menghantam wajahku. Didorong keinginan untuk tetap hidup, kami berlari keluar gua dengan terbirit birit dan iris berlinang air mata. Di mulut gua, teman teman sudah berkumpul, tampak nya mereka khawatir setelah melihat para kelelawar berhamburan dari mulut goa.

      Ngos ngos, dengan terburu buru dan penuh kerakusan aku menghirup udara segar. Tak terkira kelegaan yang kami dapat setelah keluar dari gua, beberapa cinderamata dan buah tangan seperti kotoran kelelawar dibetis dan beberapa kelelawar dengan punggung berbulu emas tak lupa kami bawa. Aku dan henry pun tertawa tawa melampiaskan rasa bahagia. Setelah duduk duduk sebentar dan menggosipkan beberapa hal seperti kelanjutan hubungan Abi dengan Koreng, kami putuskan  melanjutkan perjalanan. Mungkin kalian pikir perjalan ini terkesan mudah, tapi di sini lah letak kata sulitnya. Kami sudah tidak memiliki jalan setapak, sehingga  satu satu jalan adalah jalur air. Seperti seekor ikan yang berenang dari hilir mengejar hulu, kami melompat lompat diatas batu menuju ke puncak sungai. Udara lembab mulai terasa, butiran uap air berterbangan di sela-sela angin.

      Sebuah curug berbentuk vertikal setinggi 4 sampai 5 meter menunggu didaki di hadapan kami. Air yang mengalir di atasnya membuat batu batu itu terkesan mengkilap licin. Tangan ku mencoba menggapai celah celah batu dan mencari pegangan. Ku tatap kebawah, seketika mataku mememutih dankurasakan kulit wajahku memucat. Sementara diatas curug, Bima, Supridan Ivan terus memasok semangat. Tanganku bergetar tak setuju ke atas, perlahan aku menyingkir dari tetesan air dan mencoba memanjat lewat  bebatuan yang ditumbuhi lelumutan kering. Batang batang sebesar jarikini menjadi gantungan nyawaku, di sini lah kueratkan genggamanku selagi menuju puncaknya.

     Sresek, pohon kecil yang tumbuh diatas batu itu tercabut nyaris sampai akar. Segera kuputar tangan ku kesebuah tumbuhan pakis. Duri duri kecilnya menyusup kedalam telapak tangan, ini lebih baik dari pada membayangkan aku tergeletak dibawah dan teman temanku berlari dengan ambulance dan kotak P3K. Sambil menguatkan diri aku terus mendaki keatas, kaki kanan ku yang tanpa kusadari ternyata telah terkena jelatang makin sakit takkala tersenggol rerumput dan bebatangan. Akhirnya aku sampai ke atas curug, dengan lantang dan penuh hasrat selebrasi aku pun berteriak.
"FEAR LE...SS!"

BERSAMBUNG...

*1 ota = omong besar, membual
*2 Beruk badau =  semacam mahluk mitologi yang tak diketahui asal usulnya. namun namanya benyak di dendangkan kawula muda. mungkin saya akan membahasnya di lain kesempatan dan lain cerita.


Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "CURUG BELANDA: Pesona Dalam Belukar Gelap"